Kamis, 26 September 2013

Rumah Impian

Suatu saat kelak, saya ingin membangun rumah untuk tempat tinggal saya bersama istri dan anak-anak. Rumah itu akan saya desain sendiri tentunya dibantu dengan orang yang mengerti tentang masalah perumahan. Saya bercita-cita ingin membangun rumah sederhana tetapi nyaman dan membuat capek saya hilang sehabis seharian bekerja. Rumah itu mempunyai dua lantai.... hehe kalau dua lantai bukan rumah sederhana ceritanya. Tetapi bukankah kesederhanaan merupakan tingkatan tertinggi bagi manusia ? Sudahlah lupakan tentang kesederhanaan, kembali pada rumah yang saya idam-idamkan.

Rumah dengan perkiraan lahan 170 m2 dengan  luas bangunan 120 m2 ini saya desain senyaman mungkin, lantai pertama tentunya ruangan yang bersifat formal seperti ruang tamu, ruang tidur utama dan dua kamar anak tentunya juga terdapat dapur, kamar mandi dan ruang keluarga.  Lantai pertama ruangan ini hampir sama dengan rumah-rumah lainnya tentu saja dengan fungsinya masing-masing, untuk desain ruangan dan warna cat serta properti lainnya saya juga minta pendapat ke istri. Semua pekerjaan terasa lebih ringan jika dikerjakan bersama-sama, apalagi dikerjaan bersama seorang perempuan yang menemani kita sampai hayat nanti heehe. Di lantai dasar tentunya juga ada halaman depan dan belakang, dan saya juga menyisakan sekat kosong untuk garasi, jika suatu saat keluarga kami mempunyai mobil.

Pada lantai kedua luas bangunannya lebih kecil dari lantai bawah, dan inilah lantai dan ruangan yang saya idam-iadamkan selama ini. Saya akan membuat ruangan khusus yang tidak terlalu besar untuk menyimpan atau menaruh foto-foto yang pernah saya abadikan bersama orang tua saya, saudara dan sahabat-sahabat saya, tentu juga foto berdua dengan ibu dari anak-anak saya pada masa indah awal-awal kita kenal sampai menjadi suami istri... hehhe ruangan ini bisa dibilang hall of fame mini keluarga kami, ruangan ini sangat membantu membangkitkan memori pada saat saya suntuk atau jenuh memikirkan pekerjaan atau masalah lainnya dalam hidup ini, pikiran kita dibawa kembali atau flashback mengingat cerita-cerita yang ada dalam sebuah foto. Seberapa tipis dan pudarnya tinta dari foto tersebut, tetapi benda tersebut telah menyimpan sebuah dunia dan cerita yang akan membuat kita senyum-senyum melihatnya, tentu sambil menghayal pada waktu foto itu dibuat, betapa indahnya, harunya dan bahagianya ketika itu.
Ruangan lain di lantai dua saya fungsikan untuk perpustakaan mini dengan rak-rak yang acak dan kusen kayu berwarna putih, perpustakaan ini mungkin menjadi ruang utama di lantai dua, ruangan yang tenang untuk membaca dan nyaman, yang bisa membuat hasrat membaca saya selalu tinggi, dekorasi dinding di ruangan ini akan saya beri lukisan karya sahabat-sahabat saya ketika SMA, dua sahabat saya Adit dan Tirta merupakan seniman lukis yang karyanya pernah mengharumkann sekolah kami di tingkat Provinsi, untuk itulah saya tidak ragu menaruh karya mereka di dinding perpustakaan mini keluarga kami. Dinding sebelah timur dari lantai dua atau ruang baca ini akan saya ganti dengan kaca putih dengan corak ke abu-abuan untuk memfungsikan cahaya matahari pagi menyentuh setiap sudut dari ruangan ini. Coba bayangkan ketika pagi dengan menyeduh teh ditemani sinar matahari yang masih hangat sambil kita membaca buku atau surat kabar, betapa syahdunya pagi itu.
Tepat di lantai dua ruangan baca, saya juga akan membuatkan balkon kecil yang saling berhubungan antara ruang baca dengan teras balkon yang dipisahkan oleh pintu kayu berukuran sedang. Teras balkon tersebut cocok untuk membaca pada saat sore hari atau senja dan juga bisa sebagai fungsi lain, sebagaimana fungsi balkon pada umumnya. Ketika kita di teras balkon yang tepat berhadapan dengan halaman belakang, kita bisa melihat 2 pohon cemara yang saya tanam di belakang rumah. Pohon cemara tersebut akan tumbuh beriringan dan tidak ada yang lebih dari tinggi satunya, silahkan pikirkan sendiri maksud dari filosofi pohon cemara tersebut heheheee.
Mudah-mudahan Tuhan yang maha baik mau mendengar sedikit tulisan saya ini dan sudi untuk mengabulkannya. Amiinn











Selasa, 24 September 2013

Malu itu baik

Dulu saya adalah orang yang sangat pemalu, dalam pelbagai bidang saya merasakan malu disana. Entah itu dalam urusan keluarga, teman dan orang lain. Dalam hal umum atau spesifik saya juga merasakan malu. Entah rasa ini doktrin dari orang tua sejak lahir atau paradigma saya saja yang menilai hal yang bisa membuat saya malu, beberapa kali dan tahun saya coba berubah dan mempelajari sifat yang kadang baik dan buruk ini, sampai sekarang pun saya masih belum bisa tau bagaimana cara menghilangkan sifat ini. Orang lain berfikiran kalau sifat saya ini adalah sombong, padahal mereka tidak mengerti duduk perkaranya, orang-orang yang baru mengenal saya pun demikian, karena pada saat baru awal bertemu dan kenal saya pendiam dan cenderung tidak memulai pembicaraan, dan lagi-lagi mereka berfikiran saya sombong. Ya saya bisa terima mungkin karena mereka masih belum lama mengenal saya, sampai suatu hari ketika saya memiliki kekasih, ibu dari kekasih saya pun berfikiran demikian. Hmm bagaimana cara saya menjelaskan ke beliau. Tapi Alhamdulillah dengan berjalannya waktu satu persatu dari teman dan sahabat bahkan ibu dari kekasih saya itu mengerti kalau sifat dasar saya seperti ini. Terus berfikir, banyak sekali pertanyaan dalam diri saya, salah satunya. Memang jadi pemalu itu salah ? Apakah orang pemalu itu kriminal ? Apakah pemalu itu sama seperti sombong ? dan lain sebagainya.
Bukankah dengan pemalu membuat kita sadar diri, membuat kita lebih peka, lebih peduli dan lebih rasional dalam berfikir ? mungkin yang tau jawabannya hanya diri saya sendiri dan yang menilai tentu orang lain.

Selasa, 17 September 2013

Adanya dia adalah cara Tuhan meniadakan kita

Jam tangan yang selalu ada di tangan kiri sampai kulit dalamnya berbeda dari kulit luar tetap bertahan pada saat kepergianmu tiba, bahkan seonggok alumunium kecil masih saja tidak mau pergi dari tempatnya, di jari manis sebelah kiri tanganku. Iya itu pemberianmu, hadiah darimu waktu awal-awal dulu kita menjadi sepasang pemberani yang selalu tidak jelas tujuan tempat nongkrong kita..... hehehe indahnya pada saat-saat itu, 5 tahun yang sangat-sangat lama dan unik. Hari ini semuanya telah berbeda, semuanya telah berubah kau melanjutkan kegiatanmu yang super sibuk tentu dengan seorang pemberani yang baru, dan saya melanjutkan kegiatan yang tidak padat, tidak sibuk tentu dengan sisa-sisa senyumanmu, senyum terindah, 2 kalimat yang tidak pernah lupa saya bawa kemanapun perginya, ke puncak tertinggi Pulau Jawa pun tidak pernah lupa akan 2 kata tersebut. Semua baru terasa seperti seminggu yang lalu. Entah ini memang benar kebodohan yang saya lakukan atau ketulusan yang teramat dalam, perbedaan kedua sifat tersebut hanya dipisahkan oleh dinding tipis yang bernama cinta. Tertawalah jika kalian anggap ini lelucon, bergosip rialah jika kalian anggap ini obsesi, saya menuliskan sedikit kisah kita agar kelak kau tahu dan mengerti bahwa layang-layang yang saya terbangkan jauh lebih tinggi dan mengudara ketimbang dia, sebelum angin yang hanya sepoi-sepoi menghempaskan jauh layang-layang tersebut kebalik gunung tertinggi yang pernah saya tuliskan namamu di sana, mungkin benar semua yang telah terjadi adalah suratan dari ilahi, dengan adanya dia itu petunjuk dari yang Maha Perencana jika waktu saya sudah habis untuk menjaga kamu, menopang kamu, menyediakan bahu buat kamu, dan siap setiap saat untuk menyeka air matamu tentu dengan tangan ini. Air matamu terlalu berharga untuk sehelai bahkan sebungkus tisu, air matamu hanya pantas untuk tangan laki-laki yang sudah kau tentukan sekarang atau yang akan datang, sembari saya berharap tangan terakhir itu adalah tangan saya.  Hanya benteng dengan kekuatan batinlah saya akan berusaha mengikhlaskanmu. Silahkan tertawalah dan hinalah saya jika kalian anggap ini humor.