Suatu saat kelak, saya ingin membangun rumah untuk tempat tinggal saya bersama istri dan anak-anak. Rumah itu akan saya desain sendiri tentunya dibantu dengan orang yang mengerti tentang masalah perumahan. Saya bercita-cita ingin membangun rumah sederhana tetapi nyaman dan membuat capek saya hilang sehabis seharian bekerja. Rumah itu mempunyai dua lantai.... hehe kalau dua lantai bukan rumah sederhana ceritanya. Tetapi bukankah kesederhanaan merupakan tingkatan tertinggi bagi manusia ? Sudahlah lupakan tentang kesederhanaan, kembali pada rumah yang saya idam-idamkan.
Rumah dengan perkiraan lahan 170 m2 dengan luas bangunan 120 m2 ini saya desain senyaman mungkin, lantai pertama tentunya ruangan yang bersifat formal seperti ruang tamu, ruang tidur utama dan dua kamar anak tentunya juga terdapat dapur, kamar mandi dan ruang keluarga. Lantai pertama ruangan ini hampir sama dengan rumah-rumah lainnya tentu saja dengan fungsinya masing-masing, untuk desain ruangan dan warna cat serta properti lainnya saya juga minta pendapat ke istri. Semua pekerjaan terasa lebih ringan jika dikerjakan bersama-sama, apalagi dikerjaan bersama seorang perempuan yang menemani kita sampai hayat nanti heehe. Di lantai dasar tentunya juga ada halaman depan dan belakang, dan saya juga menyisakan sekat kosong untuk garasi, jika suatu saat keluarga kami mempunyai mobil.
Pada lantai kedua luas bangunannya lebih kecil dari lantai bawah, dan inilah lantai dan ruangan yang saya idam-iadamkan selama ini. Saya akan membuat ruangan khusus yang tidak terlalu besar untuk menyimpan atau menaruh foto-foto yang pernah saya abadikan bersama orang tua saya, saudara dan sahabat-sahabat saya, tentu juga foto berdua dengan ibu dari anak-anak saya pada masa indah awal-awal kita kenal sampai menjadi suami istri... hehhe ruangan ini bisa dibilang hall of fame mini keluarga kami, ruangan ini sangat membantu membangkitkan memori pada saat saya suntuk atau jenuh memikirkan pekerjaan atau masalah lainnya dalam hidup ini, pikiran kita dibawa kembali atau flashback mengingat cerita-cerita yang ada dalam sebuah foto. Seberapa tipis dan pudarnya tinta dari foto tersebut, tetapi benda tersebut telah menyimpan sebuah dunia dan cerita yang akan membuat kita senyum-senyum melihatnya, tentu sambil menghayal pada waktu foto itu dibuat, betapa indahnya, harunya dan bahagianya ketika itu.
Ruangan lain di lantai dua saya fungsikan untuk perpustakaan mini dengan rak-rak yang acak dan kusen kayu berwarna putih, perpustakaan ini mungkin menjadi ruang utama di lantai dua, ruangan yang tenang untuk membaca dan nyaman, yang bisa membuat hasrat membaca saya selalu tinggi, dekorasi dinding di ruangan ini akan saya beri lukisan karya sahabat-sahabat saya ketika SMA, dua sahabat saya Adit dan Tirta merupakan seniman lukis yang karyanya pernah mengharumkann sekolah kami di tingkat Provinsi, untuk itulah saya tidak ragu menaruh karya mereka di dinding perpustakaan mini keluarga kami. Dinding sebelah timur dari lantai dua atau ruang baca ini akan saya ganti dengan kaca putih dengan corak ke abu-abuan untuk memfungsikan cahaya matahari pagi menyentuh setiap sudut dari ruangan ini. Coba bayangkan ketika pagi dengan menyeduh teh ditemani sinar matahari yang masih hangat sambil kita membaca buku atau surat kabar, betapa syahdunya pagi itu.
Tepat di lantai dua ruangan baca, saya juga akan membuatkan balkon kecil yang saling berhubungan antara ruang baca dengan teras balkon yang dipisahkan oleh pintu kayu berukuran sedang. Teras balkon tersebut cocok untuk membaca pada saat sore hari atau senja dan juga bisa sebagai fungsi lain, sebagaimana fungsi balkon pada umumnya. Ketika kita di teras balkon yang tepat berhadapan dengan halaman belakang, kita bisa melihat 2 pohon cemara yang saya tanam di belakang rumah. Pohon cemara tersebut akan tumbuh beriringan dan tidak ada yang lebih dari tinggi satunya, silahkan pikirkan sendiri maksud dari filosofi pohon cemara tersebut heheheee.
Mudah-mudahan Tuhan yang maha baik mau mendengar sedikit tulisan saya ini dan sudi untuk mengabulkannya. Amiinn
Rumah dengan perkiraan lahan 170 m2 dengan luas bangunan 120 m2 ini saya desain senyaman mungkin, lantai pertama tentunya ruangan yang bersifat formal seperti ruang tamu, ruang tidur utama dan dua kamar anak tentunya juga terdapat dapur, kamar mandi dan ruang keluarga. Lantai pertama ruangan ini hampir sama dengan rumah-rumah lainnya tentu saja dengan fungsinya masing-masing, untuk desain ruangan dan warna cat serta properti lainnya saya juga minta pendapat ke istri. Semua pekerjaan terasa lebih ringan jika dikerjakan bersama-sama, apalagi dikerjaan bersama seorang perempuan yang menemani kita sampai hayat nanti heehe. Di lantai dasar tentunya juga ada halaman depan dan belakang, dan saya juga menyisakan sekat kosong untuk garasi, jika suatu saat keluarga kami mempunyai mobil.
Pada lantai kedua luas bangunannya lebih kecil dari lantai bawah, dan inilah lantai dan ruangan yang saya idam-iadamkan selama ini. Saya akan membuat ruangan khusus yang tidak terlalu besar untuk menyimpan atau menaruh foto-foto yang pernah saya abadikan bersama orang tua saya, saudara dan sahabat-sahabat saya, tentu juga foto berdua dengan ibu dari anak-anak saya pada masa indah awal-awal kita kenal sampai menjadi suami istri... hehhe ruangan ini bisa dibilang hall of fame mini keluarga kami, ruangan ini sangat membantu membangkitkan memori pada saat saya suntuk atau jenuh memikirkan pekerjaan atau masalah lainnya dalam hidup ini, pikiran kita dibawa kembali atau flashback mengingat cerita-cerita yang ada dalam sebuah foto. Seberapa tipis dan pudarnya tinta dari foto tersebut, tetapi benda tersebut telah menyimpan sebuah dunia dan cerita yang akan membuat kita senyum-senyum melihatnya, tentu sambil menghayal pada waktu foto itu dibuat, betapa indahnya, harunya dan bahagianya ketika itu.
Ruangan lain di lantai dua saya fungsikan untuk perpustakaan mini dengan rak-rak yang acak dan kusen kayu berwarna putih, perpustakaan ini mungkin menjadi ruang utama di lantai dua, ruangan yang tenang untuk membaca dan nyaman, yang bisa membuat hasrat membaca saya selalu tinggi, dekorasi dinding di ruangan ini akan saya beri lukisan karya sahabat-sahabat saya ketika SMA, dua sahabat saya Adit dan Tirta merupakan seniman lukis yang karyanya pernah mengharumkann sekolah kami di tingkat Provinsi, untuk itulah saya tidak ragu menaruh karya mereka di dinding perpustakaan mini keluarga kami. Dinding sebelah timur dari lantai dua atau ruang baca ini akan saya ganti dengan kaca putih dengan corak ke abu-abuan untuk memfungsikan cahaya matahari pagi menyentuh setiap sudut dari ruangan ini. Coba bayangkan ketika pagi dengan menyeduh teh ditemani sinar matahari yang masih hangat sambil kita membaca buku atau surat kabar, betapa syahdunya pagi itu.
Tepat di lantai dua ruangan baca, saya juga akan membuatkan balkon kecil yang saling berhubungan antara ruang baca dengan teras balkon yang dipisahkan oleh pintu kayu berukuran sedang. Teras balkon tersebut cocok untuk membaca pada saat sore hari atau senja dan juga bisa sebagai fungsi lain, sebagaimana fungsi balkon pada umumnya. Ketika kita di teras balkon yang tepat berhadapan dengan halaman belakang, kita bisa melihat 2 pohon cemara yang saya tanam di belakang rumah. Pohon cemara tersebut akan tumbuh beriringan dan tidak ada yang lebih dari tinggi satunya, silahkan pikirkan sendiri maksud dari filosofi pohon cemara tersebut heheheee.
Mudah-mudahan Tuhan yang maha baik mau mendengar sedikit tulisan saya ini dan sudi untuk mengabulkannya. Amiinn